Profile Pembicara
Suzie Sugijokanto adalah wanita biasa yang sama sekali tidak mempunyai latar belakang akademis yang mempesona. Istri dari Suwanto Prayogo ini dilahirkan dari keluarga pedagang kecil, pada Agustus 1975 sebagai satu-satunya anak perempuan dari 3 saudara laki-laki. Orang-orang biasanya mengatakan bila ada satu anak laki-laki / perempuan saja diantara saudara-saudara yang lain, biasanya anak itu akan dimanja. Tapi tidaklah demikian yang dialami Suzie kecil. Pengalaman hidupnya lah yang membuatnya mandiri. Ketika masa sekolah uang saku yang diberikan orang tuanya sering tidak cukup, dan dia berusaha berjualan buku tulis yang menjadi barang dagangan ayahnya pada teman-temannya di sekolah. Ketika liburan sekolah, dia pun mengisi kegiatan yang positif selain untuk menambah pengalamannya juga laba hasil penjualannya yang tidak seberapa itu dapat ditabung. Pernah dia pun harus menawarkan Kartu Natal, salah satu dagangan ayahnya, dari rumah ke rumah. Ayahnya memberi barang dagangan tersebut dengan harga pokok, sehingga Suzie dapat belajar berdagang dengan mengambil laba yang tidak terlalu besar. Berbagai pengalaman suka duka dialami sejak saat itu. Semuanya itu murni inisiatifnya sendiri dengan niat awal hanya untuk menambah uang saku. Dia tidak mau meminta tambahan uang saku kepada orang tuanya karena masih ada 2 adiknya yang juga membutuhkan biaya pendidikan.
Beruntung setelah tamat SLTA dia berhasil menyelesaikan pendidikan di London School of Public Relations, Jakarta pada tahun 1996. Dan kembali ke kota Surabaya, mulailah Suzie berjuang ditengah susahnya mencari pekerjaan. Ketika itu dia masih asyik dengan idealisme nya akan mencari pekerjaan yang hanya sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Seiring dengan berjalannya waktu, sekali lagi pengalaman yang diterimanya yang membuatnya mengubah pola pikirnya yang sempit itu bahwa untuk sementara lowongan pekerjaan sebagai sekretaris diterimanya dahulu, hanya untuk menambah pengalaman dan uang saku karena tidak ingin lama menganggur setelah lulus kuliah.
Sampai saat ini, pengalamannya bekerja sebagai karyawan sudah lebih dari 12 tahun dan sudah 9 perusahaan yang pernah menjadi tempatnya bekerja. Setiap kali Suzie berusaha mencari pekerjaan yang baru, hampir selalu pertanyaan pertama yang keluar pada saat wawancara adalah, “Anda tergolong mudah bosan dan kurang loyal terhadap Perusahaan karena rekor kerja Anda hanya 1-3 tahun saja di 1 Perusahaan. Apa yang membuat Anda ingin mencari pekerjaan lain ? Memang apa yang Anda dapat selama kurun waktu yang singkat itu ?” Banyak dari mereka yang kurang percaya bila Suzie harus mengatakan alasan nyata akan beberapa hal sesungguhnya yang tidak ingin dialaminya selama bekerja yang membuatnya harus mengundurkan diri dari Perusahaan itu. Banyak pula yang justru menyatakan bahwa ada yang aneh dalam dirinya yang artinya dia gagal beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan yang baru. Dan bila mendapat pertanyaan seperti tersebut diatas, Suzie pun tidak segan-segan mengajukan pertanyaan balik dalam wawancara tersebut,“ Apa yang Bapak / Ibu lakukan bila atasan Anda mengajak Anda untuk berbuat tidak jujur dalam pekerjaan ?” Betapa terkejutnya Suzie karena ternyata banyak jawaban dari mereka yang mengatakan ,” Ya ikuti sajalah. Kita harus hidup seperti bunglon. Kalau berada ditempat yang hitam, ya berubah warna menjadi hitam. Kalau berada ditempat yang putih, ya berubah warna menjadi putih.”
Itukah yang dinamakan adaptasi ? Sehingga kita harus kehilangan jati diri ? Suzie kecewa tapi paling tidak dia bersyukur dan telah menemukan bahwa Perusahaan itu bukan tempat yang cocok untuknya bekerja dan dengan kondisi orang-orang seperti itu akan susah baginya untuk dapat memelihara integritas mental kerja yang baik. Mungkin mereka yang menjawab demikian tidak menyadari bahwa mereka membawa image Perusahaan dan hanya berpikir bahwa mereka lah yang berhak meneliti para kandidat sebelum diterima dalam pekerjaan. Bagi Suzie, wawancara pekerjaan adalah kesempatan untuk saling meneliti juga. Dia pun berusaha menanyakan semua hal yang ingin ditanyakan setiap kali selama wawancara pekerjaan. Bahkan terkadang 1 hari sebelum wawancara, dia sudah berusaha mencari informasi di internet tentang profil Perusahaan tersebut. Prinsipnya, bekerja bukan saja untuk mencari nafkah tapi juga untuk kepuasan batin akan adanya penghargaan, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, kreatifitas dan mentalitas yang baik. Sekalipun kita mendapatkan gaji dan posisi yang baik dalam suatu Perusahaan, tapi jika mengalami degradasi mental itu bukan dinamakan bekerja. Dan mengenai berapa lama yang akan orang dapat selama bekerja disuatu tempat, tidak bisa diukur dengan berapa tahun orang itu mengabdi kepada Perusahaan / berapa tingginya gaji yang sudah diterima tapi tergantung dengan apa yang sudah orang itu berikan pada Perusahaan. Itu yang akan menjadi tolok ukur keberhasilan kita sebagai karyawan. Sekalipun orang itu bekerja selama puluhan tahun, tapi bila masih belum memberikan kontribusi yang berarti terhadap Perusahaan belum bisa dikatakan berhasil.